“Sekitar 85 persen lulusan SMK diterima di bursa kerja dan 15 persen lainnya melanjutkan ke perguruan tinggi” (Republika Online)
“Depdiknas pada tahun ajaran 2008/2009 bakal menambah kursi untuk peserta didik baru sekitar 300 ribu orang dan 4.000 ruang kelas SMK baru.”
Ini adalah sesuatu yang yang kami tidak dapat paham sejak tahun 1998 pada waktu kami lagi tugas di Dikmenum dan berjuang untuk membantu guru-guru mengimplementasikan kurikulum 1994. Kami sangat heran, mengapa membuat kurikulum 1994 ini? Kelihatannya kurikulum 1984 adalah lebih cocok untuk kebutuhan pendidikan di Indonesia. Kurikulum 1984 adalah agak seperti kurikulum SMK sekarang (Mengapa membuat Direktorat baru?).
Bukankah semua masyarakat membutuh pelajaran keterampilan? Mengapa SMA merugikan 70% siswa-siswi yang setiap tahun mencari pekerjaan tanpa keterampilan kerja yang memadai? Apakah pendidikan siswa-siswi yang lanjut ke perguruan tinggi akan lebih baik juga kalau di lengkapi dengan keterampilan? Bagaimana kita dapat meningkatkan pelajaran keterampilan di SMA untuk menjaminkan masa depan semua siswa-siswi, maupun mutunya yang masuk perguruan tinggi? Sinergi antara SMA – SMK???
“Atas nama rakyat presiden meminta orang-orang terbaik di bidang energi ini apa yang bisa dilakukan. Teknologi dan inovasi apa yang bisa menggeser ‘peak oil’, kata Menristek Kusmayanto Kardiman usai pertemuan presiden dengan sekitar 60 pakar energi di gedung Sekretariat Negara Jakarta, Senin (2/6).” (Media Indonesia Online)
RE: “Atas nama rakyat” Sejak kapan pemerintah mengutamakan masa depan rakyat? Kita sudah tahu mengenai krisis energi (BBM) ini selama 20 tahun lebih. Kalau kita pikir selama “Pemerintah Mega Korupsi RP166,5 Triliun (Batavia, September 24, 2004, Hal. 1) Rp166,5 Triliun dan US62,7 juta uang yang pasti hilang dikorupsi. BPK bahkan menyimpulkan, setiap tahun rata-rata penyimpangan anggaran negara sebesar Rp321,8 triliun“.
Bukankah keadaan dan nasib kita sekarang jauh lebih baik kalau uang Rp166,5 Triliun itu (Uang Korupsi) sudah digunakan untuk Penelitian dan Pengembangan Energi Alternatif? Kepedulian???Bagaimana korupsi sekarang? Sudah diatasi?
Yang Bertanggungjawab untuk Penelitian dan Pengembangan Energi Negara Alternatif Siapa? … Mengapa masalah BBM sekarang dijatuhkan ke Pakar untuk “Temukan Sumber Energi Baru”? Apakah langkah ini tidak sangat terlambat?
Mengapa rakyat yang sedang menderita harus membawa “beban berat dan besar” karena pemerintah tidak menghadapi masalah energi alternatif sebelumnya?
Ini sangat terkait dengan masalah-masalah pendidikan. Kapan kita akan memberantas masalah “korupsi terjadi di semua tingkatan dari Depdiknas, dinas pendidikan, hingga sekolah”. Apakah masalah-masalah pendidikan akan dijatuhkan ke beberapa “Pakar” pendidikan nanti juga? Peran Pemerintah???
“Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Azhar, dijadwalkan memberikan stadium generale kepada ratusan mahasiswa semester tiga dan empat. Kuliah umum tersebut adalah rangkaian program mata kuliah wajib antikorupsi. “Semua mahasiswa harus mengambil mata kuliah antikorupsi ini sebagai salah satu mata kuliah mereka“, kata Rektor UPM, Anies Baswedan, Jumat (30/5).”
“Tiap Hari 5.000 Balita Mati karena Diare”
(Prioritas dan Pedulian Terhadap Anak)“Dampak kesehatan akibat minimnya pelayanan kesehatan sanitasi di negeri ini harus dibayar mahal. Sedikitnya 5.000 anak di bawah usia lima tahun (balita) meninggal dunia “setiap hari” akibat serangan diare.”
“Di Indonesia, hampir 69 juta orang tidak memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi dasar dan 55 juta orang tidak memiliki akses terhadap sumber air yang aman.” Tetapi kita sibuk dengan akses Internet???
DIarsipkan di bawah: DUNIA PENDIDIKAN